Keislaman dan Keindonesiaan dalam Memakmurkan dan Menyejahterakan Rakyat serta Perspektif Islam Tentang Wanita dalam Kepemimpinan
AB.01
9/11/20243 min read




Komisaris Menara Syariah, Harianto Solichin dengan Narasumber Konferensi Kepemimpinan Islam Hari Pertama
Banten, Newsyariah.com - Keislaman dan Keindonesiaan menurut Komisaris Bank Syariah Indonesia, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat memiliki titik temu dan komitmen yang sama bagi upaya memakmurkan dan menyejahterakan rakyat. Kesultanan, jauh sebelum terbentuknya Republik Indonesia merupakan pilar-pilar penyebaran ajaran Islam dan perputaran ekonomi yang pada urutannya menjadi pengikat simpul-simpul kohesi Keindonesiaan.
Hal ini terbentuk pula karena adanya jiwa Pancasila sebagai panduan hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia ini. Jadi, tanpa garis besar haluan negara dan sekian banyak produk undang-undang pun kalau saja pemerintah dan para politisi memiliki komitmen kuat untuk mewujudkan nilai-nilai Pancasila, mestinya hari ini rakyat lebih makmur dan sejahtera.
Republik Indonesia pun terbentuk karena nilai-nilai Keislaman dan Keindonesiaan yang merupakan energi dan motor penggerak perjuangan dalam mendirikan negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
Sebagai mayoritas pemeluk agama, yang masih menuntut perhatian serius adalah bagaimana umat Islam tampil menjadi penggerak pembangunan di bidang politik dan ekonomi sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan agama. Rumus demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Yaitu melindungi, mencerdaskan dan menyejahterakan rakyat.
Ada empat jenis pekerjaan dalam kehidupan ekonomi modern saat ini, yaitu sebagai karyawan; sebagai pekerja mandiri; sebagai pemilik bisnis; dan sebagai investor; Dari keempat jenis pekerjaan ini, dua yang pertama bekerja untuk mengejar uang, sedangkan dua yang lain uang yang bekerja untuk pemiliknya.
Institusi Keuangan Islam seperti Bank Syariah, misalnya, ketika masuk ke pesantren dan lembaga Pendidikan Islam jangan hanya fokus bicara soal uang. Kehadirannya hendaknya memberikan penguatan dan pengkayaan pengembangan institusi, kurikulum dan etos entrepreneur yang dapat memberikan lapangan pekerjaan dan gerakan peradaban.
Selanjutnya berbicara perspektif Islam tentang wanita dalam kepemimpinannya, dalam perspektif kesetaraan gender diyakini bahwa Islam tidak menempatkan hak dan kewajiban yang ada pada tubuh manusia dalam posisi yang berlawanan, hak dan kewajiban tersebut selalu sama di mata Islam bagi dua jenis kelamin yang berbeda. Islam menjunjung tinggi konsep keadilan untuk semua, tanpa memandang jenis kelamin. Islam berada di garis depan dalam upaya membebaskan perbudakan tirani, menuntut persamaan hak dan tidak pernah memberikan prestise hanya pada satu jenis kelamin. Islam lahir sebagai agama yang menyebarkan cinta dan kasih sayang untuk semua.
Allah SWT tidak membeda-bedakan laki-laki dan perempuan, saat ini, bagi wanita, cobalah untuk memanfaatkan kekuatan dan kemampuan yang dimiliki untuk menjadi pemimpin, tidak hanya untuk keluarga tapi juga untuk lingkungan kerja dan masyarakat. (AB.01)


Komisaris Menara Syariah, Harianto Solichin dengan Komisaris Bank Syariah Indonesia, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat


Konferensi Kepemimpinan Islam Menara Syariah & BILIF Hari Pertama


Momen Lunch Break & Networking Komisaris Menara Syariah, Harianto Solichin dengan Narasumber Tokoh Wanita Nasional

